ground investigation parit baru

Download Ground Investigation Parit Baru

Post on 16-Oct-2015

63 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

penyelidikan tanah awal

TRANSCRIPT

  • SUMMARY OF GROUND INVESTIGATION

    SITE INVESTIGATION ON PARIT BARU THERMAL PLANT PROJECT

    (255 MW)

  • TABLE OF CONTENTS

    I. LAPORAN AKHIR: PENYELIDIKAN TANAH

    II. FINAL REPORT: GROUND INVESTIGATION

    III. LAYOUT OF CORE DRILLING AND CPT POINTS

    IV. SUMMARY OF LABORATORY TESTS RESULTS

    V. BORLOG (B1 B8)

    VI. DUTCH CONE PENETRATION TESTS (S1 - S6)

  • Bab 6 PENYELIDIKAN TANAH

    6.1 Pengantar Penyelidikan tanah tambahan ini dimaksudkan untuk meyakinkan kondisi geoteknis tanah dasar di lokasi rencana PLTU Parit Baru, sehingga dapat ditentukan secara baik kedalaman dan jenis fondasi yang cocok untuk dasar perencanaan konstruksi PLTU Parit Baru. Penyelidikan tanah tambahan terdiri dari dua pekerjaan utama, yaitu pekerjaan lapangan dan pekerjaan laboratorium. Pekerjaan lapangan terdiri dari pemboran, SPT, serta pengambilan sampel tanah dan air tanah.

    Pemboran tanah dilakukan di dua lokasi, yaitu di titik B7 dan B8 (lihat Gambar 6.1). Pemboran di setiap titik bor dilaksanakan sampai kedalaman 60 m. Pada pemboran, dilakukan pengujian perlawanan/kekuatan relatif tanah yang diukur melalui uji penetrasi (SPT) dan pengambilan sampel tanah, baik yang tak-terganggu (undisturbed samples) maupun yang terganggu (disturbed samples) untuk keperluan uji laboratorium.

    6.2 Pekerjaan Lapangan

    6.2.1 Pekerjaan Pengeboran Pekerjaan pengeboran dilakukan sebanyak 2 titik dengan metoda pemboran inti (core drilling) dengan menggunakan single core barrel. Selama pengeboran, digunakan casing dan/atau drilling mud untuk mencegah kelongsoran dalam lubang bor. Tanah hasil pengeboran (core) disusun dalam kotak-kotak sampel sepanjang 1 m dengan lebar dibagi 5 kompartemen sehingga dalam 1 kotak dapat tersimpan 5 m core. Identitas dan keterangan lengkap mengenai nomor titik dan kedalaman dicantumkan pada kotak tersebut. Pada kondisi tertentu, tanah dibungkus dalam kantong plastik memanjang sehingga kadar air tidak terlalu berubah sehingga memungkinkan bila diperlukan untuk uji laboratorium tambahan.

    Pengeboran dilaksanakan sampai salah satu kriteria berikut dicapai:

    1. kedalaman 60 meter, atau

    Site Investigation Tambahan PLTU Parit Baru (255 MW) Kalimantan Barat 6-1

  • 2. dihentikan sampai menjumpai lapisan batuan keras dan kompak, dimana mata bor biasa tak mampu lagi menembusnya.

    Posisi titik-titik pengujian lapangan (bor dan sondir) dapat dilihat pada Gambar 6.1 di bawah ini.

    Gambar 6.1 Perletakan titik-titik penyelidikan lapangan (bor dan sondir). B7 pada Steam

    Turbin Block sedangkan B8 pada Chimney.

    6.2.2 SPT (Standard Penetration Test) Pengujian SPT dilaksanakan menurut ASTM D 1586-84 dimana sebuah tabung belah standar ditumbuk dengan penumbuk seberat 63.5 kg yang dijatuh-bebaskan setinggi 760 mm. Pengujian dilakukan dalam 3 tahapan penetrasi, masing-masing 150 mm, dan nilai SPT (N) adalah jumlah tumbukan yang dihasilkan pada penumbukan ke-2 dan ke-3. Dengan demikian, nilai N adalah jumlah tumbukan pada tabung belah standar tersebut untuk penetrasi 30 cm. Pengujian dilakukan dalam lubang bor pada interval kedalaman sekitar 2 m.

    Site Investigation Tambahan PLTU Parit Baru (255 MW) Kalimantan Barat 6-2

  • 6.2.3 Pengambilan Sampel Tanah dan Air Tanah Pengambilan contoh tanah yang relatif tak terganggu dilakukan dengan tabung tipis yang ditekan ke tanah. Metoda sampling mengikuti cara yang diuraikan dalam ASTM D1587-83. Sampel yang diambil diberi identitas (nomor titik dan kedalaman), kemudian bagian atas dan bawah ditutup dengan lilin (wax) untuk mencegah kehilangan kandungan air. Sampel dibawa ke laboratorium mekanika tanah untuk diuji sesuai dengan jenis tanah dan kepentingannya.

    Pada akhir pemboran, setelah bor mencapai kedalaman 60 m, sampel air tanah di dalam lubang bor diambil untuk keperluan uji laboratorium kualitas air.

    6.3 Pekerjaan Laboratorium

    6.3.1 Kadar Air Kadar air tanah diuji sesuai dengan ASTM D2216-90 yang berlaku untuk tanah dan batuan. Kadar air didefinisikan sebagai rasio (dinyatakan dalam persen) antara massa air pori terhadap massa material padatnya. Pengujian dilakukan dengan cara mengeringkan tanah basah (M) di dalam oven pada suhu 110oC selama 24 jam sehingga seluruh air pori/bebas dalam tanah habis menguap dan hanya material padatnya (Ms atau massa kering) yang tertinggal. Massa air adalah selisih dari massa basah dan massa kering tanah.

    6.3.2 Berat Jenis Berat jenis tanah diuji sesuai ASTM D 854-91, menggunakan piknometer kapasitas minimum 50 ml. Tanah yang diuji adalah tanah yang lolos ayakan No. 4. Berat jenis merupakan rasio dari massa volume partikel padat tanah pada suhu tertentu terhadap massa volume air destilasi bebas udara pada suhu yang sama.

    6.3.3 Batas-batas Atterberg Batas-batas Atterberg yang diuji meliputi batas cair dan batas plastis tanah. Pengujian mengikuti ASTM D 4318-84 dan dilakukan untuk tanah yang bersifat plastis. Batas cair tanah adalah kadar air tanah, dalam persen, dimana tanah pada kondisi batas antara cair dan plastis. Kondisi ini didefinisikan sebagai kadar air tanah dimana jika tanah tersebut dimasukkan pada mangkok standar dengan ketebalan tertentu, dipisahkan dengan pembarut/colet berukuran standar, akan mengalir di dasar barutan sepanjang 13 mm jika diketukkan sebanyak 25 kali dengan tinggi jatuh 10 mm pada alat uji batas cair standar dengan kecepatan jatuh 2 kali per detik. Dalam pelaksanaan, biasanya pengujian dilakukan dengan coba-coba terhadap 2 sampel pada kadar air di atas batas cair (jumlah ketukan kurang dari 25) dan 2 sampel lagi pada kadar air di bawah batas cair (jumlah ketukan lebih dari 25). Batas cair dicari dengan interpolasi 4 data tersebut yang digambarkan pada sumbu-y berupa kadar air skala linier dan sumbu-x berupa jumlah ketukan dalam skala logaritma.

    Site Investigation Tambahan PLTU Parit Baru (255 MW) Kalimantan Barat 6-3

  • Batas plastis adalah kadar air tanah pada batas antara kondisi plastis dan semi padat, ditentukan dengan cara menggulung-gulung tanah basah membentuk batang berdiameter 3.2 mm. Kondisi batas cair dicapai jika pada diameter tersebut tanah mulai retak-retak.

    6.3.4 Distribusi Ukuran Butir Penentuan distribusi ukuran butir tanah dilakukan sesuai ASTM D 422-63 (1990). Dalam standar ini, partikel kasar (diameter lebih dari 0.075 mm) diuji dengan ayakan dari diameter 75 mm sampai yang paling halus No. 200 (0.075 mm). Untuk fraksi tanah yang lolos ayakan No. 200 (diameter kurang dari 0.075 mm) dilarutkan dalam air dan dianalisis dengan teknik sedimentasi menggunakan alat hidrometer. Distribusi ukuran butir tanah disajikan dalam kurva hubungan antara diameter (mm, skala log) terhadap persentasi lolos diameter yang bersangkutan.

    6.3.5 Uji Triaksial Uji triaksial dengan kondisi tak-terkonsolidasi tak-terdrainasi dilakukan pada tanah kohesif berdasarkan ASTM D 2850-87. Pengujian dilaksanakan pada tanah tak terganggu berbentuk silinder yang dibungkus dengan membran karet, diberi tekanan kekangan dalam alat triaksial, dan kemudian digeser sampai runtuh. Pada pengujian ini, sampel tidak diberi kesempatan untuk drainasi yang diatur dengan menutup semua katup yang berhubungan dengan sampel serta mengatur kecepatan penggeseran yang cukup tinggi. Pengujian ini akan menghasil parameter kuat geser tak-terdrainasi dan perilaku tegangan-regangan tanah.

    6.3.6 Uji Tekan Bebas Uji tekan bebas dilakukan pada tanah kohesif yang cukup kaku dan dilaksanakan berdasarkan ASTM D 2166-91. Pengujian dilakukan pada tanah tak terganggu yang berbentuk silinder dengan tinggi sebesar 2 kali diameter. Sampel diberi beban aksial berangsur-angsur sampai runtuh. Tegangan yang terjadi dikoreksi terhadap luasan yang berubah akibat pemendekan dengan asumsi volume konstan. Hasil pengujian disajikan dalam bentuk grafik hubungan tegangan dan regangan. Tegangan maksimum yang dihasilkan disebut sebagai kuat tekan bebas tanah (unconfined compressive strength) dan sering dikaitkan dengan kohesi tak-terdrainasi tanah kohesif. Pengujian ini dilakukan pada sampel lempung yang tidak diuji triaksial.

    6.3.7 Uji Konsolidasi Uji konsolidasi dilaksanakan sesuai ASTM D 2435-90. Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan parameter besaran dan kecepatan konsolidasi dari tanah tak terganggu yang terkekang arah lateral dan terdrainasi arah aksial sambil dibebani secara bertahap dengan beban/tegangan terkontrol. Metoda yang digunakan adalah dengan memberi beban konstan selama 24 jam. Beban kemudian dinaikkan menjadi 2 kali beban sebelumnya dan

    Site Investigation Tambahan PLTU Parit Baru (255 MW) Kalimantan Barat 6-4

  • masing-masing tahap beban diberikan selama 24 jam. Pada masing-masing beban, dihasilkan data hubungan antara waktu dan penurunan dimana parameter kecepatan konsolidasi bisa ditentukan. Hasil pembebanan secara keseluruhan menghasilkan data hubungan tegangan dan penurunan atau angka pori yang digunakan untuk menghitung besarnya penurunan

    6.3.8 Uji Geser Langsung Metoda yang digunakan adalah ASTM D3080-90. Pengujian dilakukan pada tanah pasir atau jika uji triaksial dan tekan bebas tidak bisa dilaksanakan karena tanah berupa pasir atau lempung lunak yang tidak bisa berdiri bebas. Pengujian dilaksanakan dengan menggeser sampel pada satu bidang geser dengan kecepatan yang dikontrol oleh alat. Pada tanah pasir, pengujian cenderung pada kondisi terkonsolidasi dan terdrainasi. Pengujian ini menghasilkan parameter kuat geser tanah.

    6.4 Hasil Penyelidikan

    6.4.1 Kondisi Lahan Secara umum lahan yang diselidiki relatif datar, sedikit miring ke arah sungai Kapuas dan sungai Jungkat (arah selatan dan barat) dengan elevasi muka tanah relatif rendah. Posisi lahan yang terletak di dekat sungai besar yang menghadap ke laut menjadikan lahan selalu basah atau terendam air saat laut pasang. Kondisi ini